Nama Makassar begitu populer. Ada Kampung Makassar di Cape Town, Afrika
Selatan, Makassar di Madagaskar, bahkan di Indonesia nama kampung
Makassar begitu menggurita, pertanda hegemoni Makassar begitu besar pada
masa lalu. Di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, tak terkecuali, ada
sebuah pulau yang juga berlabel Makassar, namanya Pulau Makasar (bukan
dengan dua 'S'). Banyak cerita tersimpan di pulau nan cantik itu.
Umur
Pulau Makasar diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun. Ini dapat
dilihat dari prasasti makam Sultan Buton VIII Mardan Ali atau Oputa Yi
Gogoli yang terdapat di pulau seluas lebih kurang 10 kilometer persegi
tersebut, antara tahun 1647 dan 1654. Hal itu dapat pula dikaitkan dalam
sejarah Kerajaan Buton yang ditulis A Ligtvoet tahun 1887 yang
menyiratkan asal-usul nama Pulau Makasar.
Disebutkan, pada
tahun 1666 Gowa mengirim armada berkekuatan 20.000 personel untuk
menggempur Buton yang dianggap melindungi Aru Palakka, pemberontak
terhadap kekuasaan Raja Gowa. Aru Palakka yang adalah putra bangsawan
Bone melarikan diri ke Buton pada tahun 1660. Dia diterima baik oleh
Sultan Buton sehingga kemudian melahirkan ikrar kerja sama antara Buton
dan Bone bahwa Buton adalah Bone Timur dan Bone adalah Buton Barat.
Konon, waktu ke Buton, Aru Palakka ikut membawa putri Raja Gowa bernama
Daeng Talele yang telah diperistri.
Pada akhir tahun 1666,
Batavia mengirim pasukan ke Makassar lalu bergerak ke Buton yang sedang
digempur oleh pasukan Gowa pimpinan Karaeng Bonto Marannu. Pasukan
kompeni itu dipimpin Admiral Cornelis Speelman berkekuatan 500 orang
Belanda dan 300 bumiputra, di antaranya termasuk Aru Palakka.
Pasukan
Bonto Marannu pun kalah atas strategi militer dan persenjataan kompeni
yang lebih modern. Sekitar 5.500 orangnya ditawan di sebuah pulau kecil
di perairan Teluk Baubau. Pulau itu oleh orang Buton disebut Liwuto.
Liwuto artinya pulau.
Tawanan perang tersebut kemudian dilepas
oleh Sultan Buton setelah pasukan Belanda meninggalkan Buton untuk
pergi ke Ternate. Menurut Ligtvoet, pelepasan itu dilakukan setelah
pimpinan pasukan Gowa membayar tebusan.
Setelah peristiwa itu,
Liwuto lebih dikenal dengan sebutan Pulau Makasar. Banyak versi yang
berkembang ikhwal penamaan Pulau Makasar itu. Pertama, di sanalah tempat
para hulubalang dan pendamping Arung Palakka diberi tempat bermukim
oleh Sultan Buton karena enggan lagi kembali ke tanah Bugis.
Versi
lain menyatakan bahwa pulau seluas 104 kilometer persegi itu diberi
nama serupa dengan ibu kota Sulawesi Selatan karena di sanalah para
pasukan Sultan Hasanuddin diberi wilayah permukiman. Sepasukan prajurit
itu enggan pulang ke Gowa lantaran gagal menemukan buronan nomor satu
Gowa, Arung Palakka. Selain itu, jika mereka gagal, maka hukuman dari
raja sudah menanti.
Adapun pada versi lain ada klaim bahwa pulau
yang diapit Pulau Buton dan Pulau Muna itu dulunya adalah tempat
tawanan 5.500 pasukan Bontomarannu yang ditangkap oleh pasukan
Kompeni-Arun Palakka yang didatangkan dari Batavia ketika Gowa menyerang
Buton pada 1666.
Dalam perkembangannya lagi, tahun 1980-an,
orang lebih populer menyebutnya Puma, singkatan dari Pulau Makasar.
Walau nama Liwuto tetap diabadikan sebagai nama kelurahan di bagian
timur pulau tersebut (Kelurahan Liwuto). Di Kelurahan Liwuto, terdapat
satu kampung bernama Bone. Entah apakah ada kaitannya dengan nama Bone
di Sulsel atau tidak, yang jelas, bone dalam bahasa lokal berarti pasir.
Perjalanan dari Kota Bau-Bau ke Puma tidak sampai setengah jam
dengan menumpangi ojek laut “jarangka” atau perahu mesin
tempel. Sepanjang perjalanan, kita dapat menyaksikan birunya laut yang
masih relatif bersih. Sesekali kita melihat ikan melompat memperlihatkan
kepalanya di atas permukaan air laut.
Di Puma kita dapat
menjumpai sejumlah tempat wisata yang oleh masyarakat setempat sendiri
tidak disadari sebagai tempat wisata. Di antaranya makam Sultan Buton
VIII Mardan Ali yang terletak di depan kantor Kelurahan Liwuto. Di Puma
ada dua kelurahan, yakni Kelurahan Liwuto dan Kelurahan Sukanayo.
Awalnya, dua kelurahan tersebut masuk dalam Kecamatan Wolio yang
berkedudukan di jantung Kota Bau-Bau. Sama halnya dengan Kelurahan Tomba
dan Kelurahan Wale.
Secara historis, Puma pernah menjadi pusat
distrik (pemerintahan). Kampung-kampung (sekarang kelurahan) dekat
Puma, seperti Lowulowu dan Kalialia, masuk dalam satu distrik yang
dipimpin La Samahu (almarhum). “Waktu itu, bila orang Lowulowu dan
Kalialia hendak bepergian, mereka datang mengurus pas jalan di Puma,”
ungkap Idien, pensiunan pegawai (PNS) Kelurahan Liwuto.
Selain
menjumpai makam Sultan Buton VIII, di Puma juga kita masih mendapatkan
sejumlah tempat bersejarah lainnya, seperti Goa Keramat atau “Liana
Binte” yang terletak di lingkungan Tanjung Batu, ujung Puma bagian
selatan yang berhadapan langsung dengan Kota Bau-Bau. Gua tersebut sejak
puluhan tahun ini ditutup dengan batu besar. Konon, orang-orang tua
dahulu menjadikan goa itu sebagai tempat bertapa untuk mendapatkan ilmu
sakti.
Tidak jauh dari gua terdapat tebing tinggi yang cukup
strategis untuk dibangun industri pariwisata bidang perhotelan.
Pemandangan dari atas tebing tinggi itu sangat fantastis sehingga cocok
jika di sana dibangun hotel berbintang. Dari tebing itu, Kota Bau-Bau
rasanya bisa digenggam.
Pasir Baana Bungi memang bagus untuk
bahan bangunan sebab butirannya agak kasar. Teksturnya berbeda dengan
pasir putih yang ada di dua Kabungi-bungi lainnya, yang cukup halus.
Pasir yang ini dapat diibaratkan seperti butiran tepung terigu.
Di
Puma juga kita dapat menjumpai hasil kerajinan pertukangan kayu, mulai
dari lemari, ranjang, hingga perabotan lain yang terbuat dari kayu jati.
Tukang kayu di Puma tergolong terampil, bahkan mereka mengerjakan rumah
hingga di Kota Bau-Bau dan Kendari.
Walaupun secara
administratif Puma masuk dalam wilayah Kota Bau-Bau, nuansa alaminya
masih sangat kental. Keheningan tanpa hiruk-pikuk kendaraan bermotor
menjadi nuansa yang amat dominan. Hanya terdapat belasan sepeda motor,
tidak ada mobil. Di daratan Puma belum ada jalan raya, kecuali
garis-garis jalan setapak yang membelah blok-blok perkampungan penduduk.
Sebagian jalan setapak itu telah dikeraskan dengan semen melalui proyek
pengembangan kecamatan, dan sebagian lagi masih jalan tanah.
Kini
nama Pulau Makasar makin mendunia dengan dilaksanakannya ajang wisata
tahunan dengan tajuk Festival Perairan Pulau Makasar, sebagai bagian
dari Visit Indonesian Years.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar